Sahabat Rumah Belajar Kep Babel 2020

Belajar Dimana Saja ! Kapan Saja ! Dengan Siapa Saja !
 

Refleksi Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2020

0 Comments

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”. Itu adalah kutipan dari Bung Karno, sang pendiri bangsa Indonesia. Beliau hingga akhir hayatnya berjuang demi keutuhan NKRI. Indonesia tidak akan menjadi bangsa yang merdeka tanpa perjuangan dari Bung Karno serta para pahlawan lain yang gugur menjadi syuhada bangsa. 

Apa arti dari pahlawan? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan diartikan sebagai orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Kata pahlawan berasal dari bahasa Sansekerta phala-wan. Arti dari istilah Sansekerta tersebut adalah orang yang dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, Negara dan agama. 

Menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 33 tahun 1964 tentang penetapan, penghargaan, dan pembinaan terhadap pahlawan Bab I Pasal 1, yang dimaksud dengan pahlawan dalam peraturan ini adalah sebagai berikut. 
  • Warga Negara Republik Indonesia yang gugur atau tewas atau meninggal dunia akibat tindak kepahlawanannya yang cukup mempunyai mutu dan nilai jasa penjuangan dalam suatu tugas perjuangan untuk membela Negara dan bangsa.
  • Warga Negara Republik Indonesia yang masih diridai dalam keadaan hidup sesudah melakukan tindak kepahlawanannya yang cukup membuktikan jasa pengorbanan dalam suatu tugas perjuangan untuk membela Negara dan bangsa dan dalam riwayat hidup selanjutnya tidak ternoda oleh suatu tindak atau perbuatan yang menyebabkan menjadi cacat nilai perjuangan karenanya.
Tahun ini, peringatan hari Pahlawan mengambil tema ““Pahlawanku Sepanjang Masa” . Peringatan Hari Pahlawan tahun 2020 ini dilakukan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya mengingat masih dalam suasana pandemi COVID-19. Upacara bendera menjadi salah satu agenda utama namun wajib dilaksanakan dengan mematuhi protokol kesehatan. 

Hari pahlawan diperingati sebagai pengingat hari yang sangat penting dalam era perjuang bangsa, dan berlangsung setiap 10 November setiap tahunnya. Peringatan tersebut diingat saat pertempuran di Surabaya terjadi pada 1945 yang diawali dengan insiden perobekan bendera merah putih biru di atas Hotel Yamato. 

Dikutip dari Prbandungraya.pikiran-rakyat.com setelah insiden tersebut, kemudian Presiden Soekarno memerintahkan untuk gencatan senjata pada 29 Oktober 1945. Pertempuran kembali pecah pada 30 Oktober 1945. Saat itu rakyat di Surabaya bersama para pejuang bertempur melawan tentara Inggris. Pada pertempuran tersebut, jumlah kekuatan tentara sekutu sekitar 15.000 pasukan. 

Sekitar 6.000 rakyat Indonesia gugur dalam pertempuran di Surabaya yang terjadi selama tiga minggu. Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945 itu pun ditetapkan sebagai Hari Pahlawan melalui Keppres Nomor 316 tahun 1959 pada 16 Desember 1959. 

Keputusan itu ditetapkan oleh Presiden Soerkarno. Kala itu Soekarno memutuskan juga hari nasional bukan hari libur, salah satunya yakni Hari Pahlawan 10 November. Hari Pahlawan 10 November merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah negara Republik Indonesia. Karena pada 10 November 1945 terjadi pertempuran besar pasca kemerdekaan, yang dikenal juga sebagai pertempuran Surabaya. 

Sejarah hari Pahlawan 

Dikutip dari Prbandungraya.pikiran-rakyat.com Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, situasi Indonesia belum stabil, saat itu Indonesia masih bergejolak terutama antara rakyat dan tentara asing. 

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, pemerintah mengeluarkan maklumat yang menetapkan mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Merah Putih dikibarkan di seluruh wilayah Indonesia. Gerakan pengibaran bendera tersebut meluas ke seluruh daerah-daerah, salah satunya di Surabaya. 

Pada pertengahan September, tentara Inggris mendarat di Jakarta dan mereka berada di Surabaya pada 25 September 1945. Tentara Inggris tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) datang bersama dengan tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Tugas mereka adalah melucuti tentara Jepang dan memulangkan mereka ke negaranya, membebaskan tawanan perang yang ditahan oleh Jepang, sekaligus mengembalikan Indonesia kepada pemerintahan Belanda sebagai negara jajahan. 

Hal ini memicu kemarahan warga Surabaya, mereka menganggap Belanda menghina kemerdekaan Indonesia dan melecehkan bendera Merah Putih. Mereka protes dengan berkerumun di depan Hotel Yamato dan meminta bendera Belanda diturunkan lalu kibarkan bendera Indonesia. 

Pada 27 Oktober 1945, perwakilan Indonesia berunding dengan pihak Belanda dan berakhir meruncing, karena Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan tersebut. Hingga mengakibatkan Ploegman tewas dicekik oleh Sidik di Hotel Yamato pun terjadi ricuh. 

Sejumlah warga ingin masuk ke hotel, tetapi Hariyono dan Koesno Wibowo yang berhasil merobek bagian biru bendera Belanda sehingga bendera menjadi Merah Putih. 

Kemudian pada 29 Oktober, pihak Indonesia dan Inggris sepakat menandatangani gencatan senjata. Namun keesokan harinya, kedua pihak bentrok dan menyebabkan Brigadir Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris, tewas tertembak hingga mobil yang ditumpanginya diledakan oleh milisi. 

Tewasnya AWS Mallaby membuat Inggris marah. Melalui Mayor Jenderal Robert Mansergh, pengganti Mallaby, ia mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia bersenjata harus melapor serta meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan. 

Tak hanya itu, mereka pun meminta orang Indonesia menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas dengan batas ultimatum pada pukul 06.00, 10 November 1945.Ultimatum tersebut membuat rakyat Surabaya marah hingga terjadi pertempuran 10 November. 

Dikutip dari kompas.com, pagi-pagi sekali pada 10 November itu, tentara Inggris melancarkan serangan. Ini dibalas dengan perlawanan sengit dari pasukan dan milisi Indonesia. Pada pertempuran ini, ada banyak tokoh yang menggerakkan perlawanan. Salah satu yang paling kita kenal, Bung Tomo. Ada pula tokoh-tokoh lain seperti KH Hasyim Asyari dan KH Wahab Hasbullah. 

Pertempuran Surabaya berlangsung cukup panjang karena alotnya perlawanan dari pihak Indonesia. Pertempuran ini baru mereda dalam sekitar tiga minggu. Diperkirakan 6.000–16.000 pejuang Indonesia gugur dalam pertempuran ini. Kehilangan yang besar itu lantas menularkan semangat perlawanan di berbagai daerah lain di Indonesia. 

Dikutip dari Tirto.id "Dalam garis besar bahwa kegiatan Hari Pahlawan ini ada tiga main menu, yaitu upacara ziarah nasional, upacara tabur bunga di laut, dan upacara penganugerahan Pahlawan Nasional oleh presiden,” demikian kata Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial, Edi Suharto, melalui keterangan pers Kementerian Sosial (Kemensos), Senin (9/11/2020). 

"Kalau dulu kita berjuang dengan mengangkat senjata, maka sekarang kita berjuang melawan berbagai permasalahan bangsa, seperti kemiskinan, bencana alam, narkoba, paham-paham radikal dan termasuk berjuang melawan pandemi COVID-19 yang saat ini melanda dunia," tulis Kemensos. 

Kini, semangat pertempuran Surabaya yang tak kenal menyerah terbawa dalam jiwa penerus bangsa. Dengan peringatan hari Pahlawan ini, kita jadikan sebagai refleksi perjuangan mereka tanpa pamrih dalam mempertahankan kemerdekaan. Kita sebagai generasi milenial yang menikmati hasil jerih payah mereka, harusnya menghargai perjuangan para pahlawan dengan cara berjuang dan berkarya memajukan bangsa dengan keterampilan yang kita punya. Memajukan Indonesia dengan ide kreatif sesuai dengan bidang masing – masing agar generasi selanjutnya juga semakin bersemangat membangun Negara Indonesia yang telah dibangun dengan susah payah. 
Selamat Hari Pahlawan. Jasa – jasamu kukenang, kemerdekaan yang kau impikan akan kami pertahankan. Untukmu Negeriku, Kubaktikan. Al Fatihah 



*dari berbagai sumber

Read more...
 
Bu Guru Icha © | Copyright © 2020