Pada hari Selasa tanggal 15 September 2020 dilaksanakan kuliah umum PembaTIK 2020 yang diselenggarakan melalui live streaming YouTube dan meeting zoom. Di hari kedua pelaksanaan kuliah umum PembaTIK 2020 tersebut, membahas materi dari tiga narasumber yaitu:
- Kiat Sukses Bagi Para Pendidik Untuk Berkomunikasi dengan Publik (Narasumber: Charles Bonar Sirait, S.E., M.M)
- Motivasi Guru Dalam Mendidik Belajar dalam Mengajar (Narasumber: Butet Manurung)
- Kebijakan Pendidikan Terkait Guru dan Tenaga Kependidikan (Narasumber: Dr. Ichwan Syahril, Ph.D)
Berikut disampaikan rewiew materi dari narasumber dalam kuliah umum PembaTIK 2020. Dalam materi Kiat Sukses Bagi Para Pendidik Untuk Berkomunikasi dengan Publik yang disampaikan oleh Charles Bonar Sirait, S.E., M.M disampaikan beberapa hal, antara lain:
- Buku adalah salah satu produk dari pendidikan.
- Kiat berkomunikasi dengan publik, yang paling menarik dan paling dekat dengan kehidupan kita adalah menceritakan kehidupan kita sendiri. Karena yang paling dekat dengan kita ya diri kita sendiri.
- Tuntutan terhadap kemampuan pendidik untuk berkomunikasi dengan public dan public speaking yang lebih efektif menjadi semakin tinggi.
- Idealnya, guru perlu populer tetapi pada saat yang sama kompetensinya harus sama dengan popularitasnya. yang dipelajari?
- Memahami pola komunikasi sederhana. Seorang pendidik harus memiliki keyakinan, disaat dia sedang mengajar dia bukan hanya mengajar tapi juga memimpin. Jadi, kita harus mampu memimpin dan mempengaruhi orang lain. Pendidik harus memiliki kemampuan menarik perhatian public. Pendidik harus mempu membuat public “terjaga”
- Impactful Communication. Impactful adalah memiliki kekuatan untuk mendapatkan rasa simpati, kecintaan dan ingin berbagi. Sinonim dari Impactful: Mempengaruhi/berpengaruh/berdampak, Emosi, pergerakan, tidak diduga duga (impressive), menyentuh. Komunikasi adalah serangkaian tindakan yang mengarah ke maksud dan tujuan untuk mendapatkan pemahaman dari orang lain. Komunikasi tidak sesederhana kita ngomong. Komunikasi ada sejumlah perencanan, sejumlah ide/gagasan yang harus dirancang dan dibentuk, lalu dikomposisi, lalu dipindahkan atau ditransmisikan.
- Persuasive Communication. Berhubungan dengan alam bawah sadar untuk bisa mempengaruhi orang lain (membentuk opini).
- Personal Branding (menunjukkan otentisitasnya/eksistensi). Komunikasi atau sebuah pesan menjadi lebih bermakna ketika yang menyampaikannya itu berpengaruh. Berpengaruh itu bukan hanya sekedar popular, tapi berkompeten. Setiap orang mempunyai personal brand yang berbeda – beda. Antara satu guru dengan guru lainnya harus punya keunikannya tersendiri.
Pemahaman tentang personal brand:
- Men’stimulasi’ persepsi yang sangat kuat tentang nilai – nilai yang diyakini.
- Menginformasikan kepada public, siapa sebenarnya anda? Apa hal yang anda kerjakan? Apa yang membuat anda berbeda dari orang lain? Apa yang diharapkan dari diri anda ketika diajak bekerjasama?
- Mempengaruhi orang lain untuk mempersepsikan diri anda secara positif
- Menciptakan ekspektasi dalam pemikiran orang lain tentang keuntungan yang akan diraih jika bekerjasama dengan anda.
- Menciptakan persepsi positif untuk prospek/klien anda bahwa anda adalah solusi bagi problem prospek/klien anda.
- Menempatkan anda di posisi rata – rata diantara sengitnya kompetisi saat ini.
Selanjutnya materi Motivasi Guru Dalam Mendidik Belajar dalam Mengajar oleh Butet Manurung. Pada materi ini Butet Manurung memaparan motivasi beliau melalui pengalamannya mengajar di sekolah rimba yang terangkum dalam intisari berikut:
- Pintar atau bodoh itu tergantung siapa yang bicara dan dimana kita berada.
- Sistem pendidikan sekolah rimba (sistem pendidikan lokal) sudah kontekstual. Anak rimba belajar melalui 3 metode: observasi, bermain dan eksplorasi. Pengetahuan dan kecakapan itu operasional terhadap keseharian mereka.
- Literasi bukan hanya melek huruf tapi melek masalah. Sekolah rimba menggunakan kurikulum hadap masalah yang diharapkan dapat menyelesaikan masalah di rimba.
- Kita harus percaya anak-anak itu mampu. Mereka bukan kertas kosong, mereka bukan tidak punya kecakapan untuk bertahan hidup. Yang kita berikan hanya tambahan karena orang tua mereka punya ilmu, orang – orang sekitar, alam sekitar, itu semua adalah guru.
- Pengetahuan yang kita sampaikan melalui kurikulum yang sekarang dipakai (k-13) atau ada kurikulum darurat diharapkan dapat mengkontekstualkan kurikulum itu terhadap permasalahan di sekitar. Sekolah formal tidak mengajarkan kemampuan yang sesuai kondisi/potensi disekitarnya.
- Bagi masyarakat rimba “pena adalah setan bermata runcing, menguasainya adalah cara untuk mengalahkannya.”
- Sekolah formal tidak mengakomodir cara belajar local dan sifat alamiah yang dinamis di alam bebas
- Sekolah formal tidak (ajar) mengatasi persoalan kehidupan dan perubahan sekitar dan perubahan sekitar murid.
- Sekolah formal tidak (belajar) merespon persoalan kehidupan dan perubahan sekitar anak.
- Sekolah formal tidak mengakomodasi nilai dan kebenaran versi lokal.
- Prinsip Guru HUMILITY (Human, Humus, Humble) : Kerendahhatian. Belajar dulu sebelum mengajar. Guru punya tanggung jawab sosial selain mengajar. Mengajar itu sarana pendidikan, bukan tujuan. Hakikat pendidikan adalah membebaskan
- Ketika mengajarkan huruf, mengajarkan kata, kita harus mengajarkan kesadaran kritis dan kepekaan social sejak dini.
- Sekolah harus memberi manfaat untuk kehidupan, untuk saat ini, bukan di masa depan. Karena jika kita memelihara hari ini, kita memelihara masa depan. (Orang rimba).
- Keberagaman adalah kekuatan. Pastikan kita menghargai keberagaman yang ada di lokasi. Keberagaman mata pencarian, budaya, Bahasa. Jika bisa, mengajarkan baca tulis menggunakan Bahasa lokal. Di sekolah rimba jika sudah lancar baca tulis baru menggunakan Bahasa Indonesia. Penyeragaman kurikulum akan membuat penyeragaman kecakapan. Nanti jika semua orang seragam padahal geografis kita beragam jadinya kecakapan dengan tuntutan dari lokasi tidak “match” sehingga mereka akan urbanisasi ke kota karena ilmunya cocok dipakai di kota. Jadi hati – hati Keseragaman dapat membunuh keberagaman.
- Pendidikan kontekstual itu kunci. Konteks yang ada disitu (tempat mengajar) seharusnya membentuk konten pelajaran dari kita bukan sebaliknya, pelajaran yang kita bawa mencoba membentuk masyarakat yang ada disitu.
Selanjutnya, dalam materi Kebijakan Pendidikan Terkait Guru dan Tenaga Kependidikan oleh Bapak Dr. Ichwan Syahril, Ph.D. Pada materi ini, Bapak Dr. Ichwan Syahril, Ph.D menyampaikan beberapa hal yang ntisarinya adalah sebagai berikut :
Lambang Pendidikan. Lambang yang dipakai oleh Kementerian Pendidikan yakni lambang Tut Wuri Handayani. Dimana ini merupakan rangkaian dari Ing ngarso sing tulodo, Ing madya mangunkarso, Tut wuri handayani. Menurut Ki Hajar Dewantara, guru harus Ing ngarso sing tulodo (menjadi teladan), Ing madya mangunkarso (memberi semangat dan motivasi) dan Tut wuri handayani (dari belakang memberi dorongan). Dan semangat Merdeka Belajar sebenarnya diambil dari filosofi Bapak Pendidikan kita.
Guru dalam perspektif Merdeka Belajar. Belajar dari Ki Hajar Dewantara.
- Memandang anak dengan rasa hormat. Ini menunjukkan kekuatan untuk belajar berpusat pada anak (student centered learning). Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan itu dilihat dari perspektif makhluk hidup, ada gabungan Nature (dari kodratnya anak) dan Nurture (cara kita untuk menumbuh kembangkan mereka). Pendidikan itu hanya bisa menuntun namun faedahnya bagi hidup tumbuhnya anak sangat besar. Analogi dari Ki Hajar Dewantara: Pendidik ibarat petani. Seorang petani yang menanam padi hanya dapat menuntun tumbuhnya padi. Ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman padi, memberi pupuk dan air, membasmi ulat atau jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan sebagainya. Meskipun pertumbuhan padi dapat diperbaiki tetapi dia tidak bias mengganti kodrat iradatnya padi. Misalnya petani tidak akan bisa menjadikan padi yang ditanamnya menjadi jagung. Jadi guru harus terus belajar karena dia tidak tahu bibit apa yang hadir dalam kelas.
- Secara filosofi Ki Hajar Dewantara, anak lahir diumpamakan sehelai kertas yang sudah ditulisi penuh tapi semua tulisan itu suram. Pendidikan berkewajiban dan berkuasa menebalkan segala tulisan yang suram dan berisi baik agar kelak nampak menjadi budi pekerti yang baik. Segala tulisan yang mengandung arti jahat hendaknya dibiarkan agar jangan menjadi tebal, bahkan jika bisa dibikin lebih suram. Pendidikan hanya tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak – anak. Hidup tumbuhnya anak – anak terletak diluar kecakapan kita atau kehendak kaum pendidik. Anak – anak itu sebagai makhluk, manusia, benda hidup, sehingga mereka hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri.
- Mendidik secara holistik. Dalam pendidikan holistik, Ki hajar menggunakan kata budi pekerti atau lahir batin atau olah cipta, olah rasa dan olah karsa yang maknanya sama. Pendidikan itu harus menajamkan pikiran, menghaluskan perasaan, dan menguatkan kemauan. Pendidikan yang baik, yang holistik, akan menghasilkan manusia yang penuh dengan kebijaksanaan.
- Mendidik secara relevan/kontekstual. Esensinya menghadapi perubahan yang berkelanjutan berdasarkan keadaan dan zamannya.
Merdeka belajar visinya adalah fokus kepada murid. Itu hal yang
terpenting. Kita harus melakukan pembangunan nasional dan sumber daya manusia.
Dan pada murid kita harus lihat tumbuh kembangnya secara holistik. Unit inovasi
utama untuk melakukan inovasi inovasi adalah sekolah. Kepala sekolah harus
menjadi kepala chef learning and chef innovation officer yang akan
menggerakkan ekosistem yang ada di sekolah. Dan peran pemerintah dalam konteks merdeka belajar
adalah sebagai pemberdaya, jadi bukan yang sibuk mengontrol melainkan untuk
memberdayakan, memberikan otonomi agar masyarakat terutama ekosistem pendidikan
kita lebih terbuka, lebih banyak inovasi – inovasi yang dihasilkan. Apabila kita ingin menghadirkan inovasi, seperti yang dipesankan oleh
Pak Presiden bahwa inovasi sebagai budaya artinya kita harus membudayakan
menghasilkan hal – hal yang eksperimentasi, mencoba hal – hal baru harus focus
dan berdampak kepada hasil belajar murid yang lebih baik.
Profil pelajar Pancasila : pelajar sepanjang hayat yang memiliki
kompetensi global dan berprilaku sesuai
dengan nilai – nilai Pancasila:
- Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia
- Mandiri
- Berkebhinnekaan global (keberagaman adalah sebuah kekuatan yang akan menghadirkan solusi yang semakin menguatkan kemanusiaan kita)
- Gotong royong (akar budaya masyarakat kita)
- Kreatif (ada imajinasi untuk menghadirkan solusi – solusi baru)
Pada kondisi sekrang ini (Covid-19), terkait dengan Kebijakan Pendidikan., dapat diambil beberapa hikma, yaitu :
- Sikap mental “nyaman dengan ketidaknyamanan”. Mendukung percepatan terwujudnya budaya inovasiBeragam konteks tantangan yang dihadapi memaksa pendidik untuk berpikir ulang pendekatan dalam pembelajaran.
- Mendukung percepatan terwujudnya pembelajaran yang berpusat kepada murid (personalisasi, differensiasi, teach at the right level)
- Menurunnya kecemasan terhadap teknologi. Perlunya percepatan pembangunan platform pendidikan nasional berbasis teknologi
Demikianlah rangkaian kuliah umum dan materi yang disampaikan narasumber di hari kedua, selasa 15 September 2020.
Untuk
ulasan lengkap dari pemateri tersebut, dapat dilihat di
channel YouTube Rumah Belajar (Sesi 1, Sesi 2)
Berbagi Inovasi Pembelajaran Berbasis TIK Mewujudkan Merdeka Belajar
Merdeka Belajarnya, Rumah Belajar Portalnya, Maju Indonesia
Yuk follow rumah belajar di @belajar.kemdikbud
#MerdekaBelajar #NadiemMakarim #DutaRumahBelajar #SahabatRumahBelajar #PembaTIKBaBel2020 #PembaTiK2020 #PembaTIKlevel4 #PembaTIKlevel4Babel #Babel_pacak #bersamalawankorona #BabelBergerak #DutaRumahBelajar2020 #RumahBelajar #tributetohendriwidiatmoko #PusdatinKemdikbud #kemdikud_ri #indonesiamaju #BerbagiTIK #RumahBelajar2020 #SahabatRumahBelajar2020




0 Comments:
Posting Komentar